Kembali lagi aku harus merantau
pergi, meninggalkan segala yang ada di kandangku ini. Ah, harusnya segalanya
terasa terakselerasi, tapi mengkerut rasanya hati ini.
Aku suka Bandung. Cuacanya, yang
kata orang sudah tidak sedingin dahulu kala. Tetesan hujannya, yang membuat
tenang ingin meringkuk di bawah selimut hangat. Bahkan mungkin macetnya, yang
katanya semakin hari semakin menyiksa.
Hanya hitungan jam, setelah tiga
tahun yang lalu, aku kembali lagi disini. Tiga tahun yang lalu, situasi yang
sama, perasaan yang terpaut jauh berbeda. Ah, rasanya dada ini selalu sesak
kalau mengingat bagaimana waktu berlalu sangat cepat. Tambah sulit lagi nafas
ini ditarik saat lagi sadar dalam waktu yang berlari secepat kijang, banyak
pula yang hal yang silih berganti dan hilang.
Hidup kadang lucu. Ditaruhnya
lagi aku di tempat ini. Mati matian aku
berjanji tidak lagi laginya kembali ke tempat itu. Sumpah serapah dalam hati di
dua puluh empat jam pertama aku terduduk disitu. Tapi disinilah aku lagi.
Hidup kadang lucu. Dimintanya
lagi aku untuk beradaptasi. Saat semuanya sudah berhenti berputar, sudah duduk
dengan tenang, kembali dia bangun lalu bisikkan “kembali lagi kamu harus menari”.
Aku takut. Tidak pernah aku
semenciut ini.
Mungkin karena kotanya. Terlalu
bising. Aku suka tenang. Terlalu padat. Aku suka kosong. Terlalu… palsu? Jelas
bukan yang aku mau.
Kadang penat, padahal belum juga
aku melangkah. Lihat saja dari kata kata ini, terlalu banyak diksi yang aku
rajah.
Akan jadi apa besok? Dan lusa?
Akan bagaimana tidurku besok? Dan
lusa?
Akan bagaimana semuanya? Karena aku
pun mungkin sudah berubah. Sudah tidak selincah dulu. Sudah terlalu banyak yang dituju.
Andai aku ini lugu. Semua mungkin lurus.
Terlalu banyak huruf U, dan sekarang nafasku memburu.
Oh, ya, kamu. Ingin sekali aku berkeluh kesah padamu. Tapi nampaknya sudah mulai ketara jauh berbeda yang kau pilih di hidupmu dan hidupku. Sepertinya kau suka hiruk pikuk itu. Kebalikanku yang membencinya sampai ke tulang rusukku. Tapi sudahlah, hari ini aku menulis bukan untukmu.
Tuhan, aku sungguh berlebihan. Tuhan, mohon maafkan. Aku tidak mau tidur, tidak mau jam jam terakhir ini kulewatkan dengan mata terpejam.
Aku tidak mau pergi.
No comments:
Post a Comment